Tuhan di Persimpangan Modernisme

Saya sering mendengar orang memperbincangkan tentang Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, dimanakah Tuhan berada?dan saya sering  pula mendengarkan jawaban dari pernytaan itu, kata temanku bahwa Tuhan ada dimana-mana; ada dalam titik hujan,ada pada butir embun,lembar-lembar daun,ada dalam sorot mata seseorang pengemis,garis bibir sang kekasih,dalam hati,dalam setiap gerak langkah manusia,intinya bahwa Tuhan ada dimana-mana. Tuhan itu satu namun dia mengapung.

Dalam pandangan saya sebenarnya pada kalimat pertanyaan Tuhan ada dimana? Mengandung sebuah keganjilan atau ketidak lajiman,walaupun tidak berdosa juga untuk dipertanyaakan, karena Tuhan memberikan akal dan hati kepada setiap manusia sehingga manusia itu punya rasa ingin tahu.Keganjilan dalam kalimat pernyataan itu adalah terletak pada kata “ dimana”, karena kalau kita menanyakan Tuhan ada dimana, berarti kita telah memberikan jarak antara kita sebagai manusia dengan Tuhannya. Seakan Tuhan berjarak jauh lima atau sepuluh kilometer dari kita, seakan Tuhan bertempat tinggal di Bantul atau di Wonogiri.Padahal apakah Tuhan berjarak dengan kita? Bukankah Tuhan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Dan milik Allah Timur  dan Barat. Kemana pun kamu mengahadap disanalah wajah Tuhanmu, Allah maha luas,maha mengetahui (Qs Al-Baqarah,ayat 115)

          Ketika teman ku melontarkan sebuah jawaban bahwa Tuhan ada dimana-mana, ada dalam titik embun sampai sebutir debu, saya sepakat dengan itu. Walaupun disatu sisi saya punya pandangan lain agak berbeda namun dalam subtansi yang sama. Dalam pandangan saya apakah Tuhan ada dalam diri manusia dan tetes embun itu yang berada dalam diri Tuhan…??? apakah Tuhan ada dalam alam semesta atau semesta yang kita pijak ini yang berada dalam diri Tuhan ! dan dalam pandangan saya yang awam ini bahwa tetes embunlah yang berada dalam diri Tuhan, ruang waktu itulah yang berada dalam diri Tuhan, dalam cinta kasih_Nya, dalam genggamannya.

Menarik juga sebagai sebuah bahan renungan dan cukup mengugah kesadaran dalam kalimat pertanyaan Tuhan ada dimana tersebut. Dizaman modern yang sedang kita diami dan sedang kita jalani ini, Tuhan seakan lenyap dari perdaban manusia. Tuhan telah mati, begitulah ungkap Zarathusta. Kata Tuhan telah  mati adalah sebuah metafora yang menandakan bahwa manusia telah menomorduakan Tuhan ,seakan manusia modern tidak membutuhkan Tuhan dalam kesehariannya. Padahal tuhan selalu membayang-bayangi setiap gerak langkah kaki manusia.

Manusia modern seakan menempatakan Tuhan sebagai sebuah barang rongsokan  yang digeletakan digudang begitu saja,dan jauh dari lubuk hatinya.bagi manusia modern yang dipertuhankan bukan Tuhan yang sesungguhnya,tapi lebih pada sikap pragmatism dan materialism seperti televise,mode,gaya hidup konsumerisme,handphone dan sejenisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s