Opini – Prematurkah Capres saat Ini?

Prematurkah Capres saat Ini?

Oleh :
Said Hamzali
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pemilihan Presiden baru akan dilaksanakan 2014, namun gegap gempita pencapresan sudah ramai dibicarakan. Jika Abu Rizal Bakrie secara resmi sudah dicalonkan Partai Golkar, maka ada beberapa sosok yang sudah mulai memproklamirkan diri menjadi Calon Presiden, tanpa dukungan partai politik. Sebut saja Rhoma Irama dan Farhat Abbas. Bahkan si pengacara muda, Farhat Abbas ini sudah memasang baliho di berbagai daerah, dengan slogan Capres Muda Aku Indonesia.

Beberapa nama, seperti mahfud MD, Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, juga santer dibicarakan dan memiliki elektabilitas tinggi di beberapa lembaga survei. Padahal proses pencapresan baru akan fix setelah hasil pemilu legislatif diketahui. Meskipun begitu, beberapa Parpol masih tetap “pede” untuk optimistis memenuhi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold).

Persiapan yang panjang mungkin yang selama ini dinilai menjadi pertimbangan untuk menetapkan penentuan Capres. Meskipun slogan “lebih cepat lebih baik” tidak selamanya efektif, setidaknya yang terjadi pada Pilpres 2009 lalu. Waktu yang relatif lama akan mampu mematangkan strategi pemenangan, apalagi Pilpres membutuhkan sosialisasi figur yang optimal. Meminjam bahasa marketing, menjual sosok bisa dilakukan dengan strategi STP, yakni segmenting, targeting dan positioning. Strategi positioning inilah yang boleh jadi memerlakukan spasi waktu yang cukup lama, karena menanamkan sosok ke benak pemilih adalah kerja keras yang membutuhkan kerja cerdas.

Namun alur pikir seperti ini tampaknya terlalu berlebihan. Mengusung capres pada saat ini lebih sebagai sesuatu yang prematur. Ada beberapa alasan: pertama, sistem pemilihan Presiden kita saat ini masih satu paket dengan pemilu legislatif. Artinya, Penentuan capres masih tersandra oleh hasil pemilu legislatif. Sehingga strategi koalisi untuk mengususung capres secara pasti hanya bisa dilakukan setelah penetapan hasil Pemilu. Hal ini berbeda dengan pemilihan Presiden di Amerika Serikat yang tahapannya sudah dilakukan dua tahun sebelum hari pemilihan, melalui tahap primary dan kaukus. Sehingga tampaknya terlalu prematur ketika saat ini sudah mulai menentukan capres-cawapres.

Kedua, pencapresan yang prematur akan menyedot sumber daya Partai politik secara besar, sehingga agenda kepartaian lainnya yang lebih populis akan tergeser. Meskipun platform sebagai partai politik serta merta menyatakan orientasi politik praktis, namun partai politik juga mempunyai peran pemberdayaan dalam pewujudkan good citizen. Peran ini yang belum dapat direalisasikan parpol secara optimal. Dan kecenderungan pencapresan prematur ini menjadi bukti, betapa Parpol hanya sebagai kendaraan politik belaka, fungsi empowering society sering kali diabaikan.

Ketiga, pencapresan dini membuktikan syahwat dan ambisi politis yang terlalu besar. Beberapa Parpol yang sudah melakuakan penetapan capres, seperti Golkar misalnya, menunjukkan adanya ambisi kekuasaan yang besar. Jikalah politik itu orientasinya adalah kekuasaan, namun terlalu berambisi kekuasaan menunjukkan besarnya pertaruhan kepentingan yang bermain. Sebenarnya kita bisa menebak, mengapa Abu Rizal Bakrie (ARB) begitu ngotot untuk menjadi presiden? Boleh jadi, ada pertaruhan kepentingan besar yang ada dibalik hal tersebut, dan hanya bisa diselamatkan melalui kekuasaan.

Perlu Penguatan Parpol

Partai politik, merupakan indikator sistem politik disebuah negara. Jika asumsi ini disepakati, maka tidak bisa dipungkiri bahwa untuk membangun sistem politik yang demokratis dan berkeadilan, maka harus dimulai dengan pembangunan partai politik yang sehat. Dengan kata lain, partai politik yang sehat adalah conditio sine qua non, prasyarat bagi terwujudnya sistem politik yang sehat. Dari sini, parpol harus mulai intropeksi diri untuk membangun sistem internal partai masing-masing secara sehat.

Dalam hal ini kaderisasi Parpol harus benar-benar mampu membekali kadernya dengan etika dan fahsun politik. Melalui kaderisasi yang produktif, kader partai akan mampu berpolitik dengan cara yang fair dan sehat. Selama ini, Parpol lebih bersikap pragmatis kaitannya dengan rekruitmen kader. Kader yang kaya dan populer lebih digunakan daripada kader yang sudah lama berproses. Kasus perekrutan artis atau pengusaha menjadi bakal calon Kepala Daerah ataupun Caleg adalah bukti dari kecenderungan ini.

Selain itu, Parpol juga harus mulai melakukan fungsi yang selama ini sudah mulai dilupakan, yakni melakukan pemberdayaan. Pendidikan politik yang sehat dalam hal ini harus dijadikan agenda Parpol, di mana rakyat dididik untuk mampu berpolitik secara sehat. Fungsi parpol ini, barangkali sudah mengalami bias. Artinya proses pendidikan dan pemberdayaan rakyat, dianggap tidak lagi menjadi bagian mereka. Yang terjadi rakyat menjadi acuh, apatis, pragmatis terhadap politik. Jika ini terjadi, berarti parpol sudah mengalami kegagalan. Hingga akhirnya, melalui system politik yang sehat, tujuan ideal politik, yakni memberkan kesejahteraan bagi rakyat akan dapat terwujud. Jika Parpol sudah memiliki kualitas yang handal, maka siapapun capres yang diusung maka akan mampu memberikan harapan bagi kemajuan bangsa ini. Semoga!.

One Response to Opini – Prematurkah Capres saat Ini?

  1. Pingback: Opini – Prematurkah Capres saat Ini? | saidhamzali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s